Connect with us

Covid-19

Setahun pandemi virus corona, Indonesia belum aman

Tepat setahun pagebluk Covid-19 di Indonesia, jumlah kasus harian masih dinamis. Semakin banyak orang yang dites, maka kasus baru pun bermunculan. Namun, kunci memutus mata rantai dengan penelusuran dan tes usap dinilai belum maksimal.

“Dokter! Ibu saya perutnya nggak gerak!”Adit (35) berteriak histeris saat tahu ibunya yang terbaring di kasur kamar sebuah rumah sakit rujukan covid-19 daerah Tangerang Selatan dengan selang oksigen tiba-tiba terdiam.

Adit, yang saat itu juga masih mendapat perawatan dengan jarum infus menempel di tangan kanannya, tergolek lemas. Ibunya sudah dua hari menunggu di Unit Gawat Darurat (UGD) untuk tindakan medis selanjutnya.

Sehari sebelumnya, pada 11 Januari 2021, sang ibu melakukan tes usap Polymerase Chain Reaction (PCR) setelah mengalami sesak nafas, mual, dan pusing. Namun, hasil tes belum keluar dan sang ibu sudah menghembuskan nafas terakhirnya.

Pihak rumah sakit tidak mengharuskan agar ibunya dimakamkan dengan prosedur Covid-19. Alhasil, Adit memutuskan membawa pulang jenazah dan dimakamkan dengan prosedur pemakaman biasa.

Sedikitnya 40 orang hadir melayat pada 12 Januari 2021 lalu. Di antara mereka termasuk tetangga di sekitar rumah, keluarga, kerabat, serta tiga petugas yang memandikan, mendoakan, dan mengantarkan jenazah.

Setelah pemakaman usai, surat hasil uji PCR keluar: sang ibu terkonfirmasi positif Covid-19.

Adit segera melapor ke RT. Selanjutnya, Puskesmas menghubunginya untuk uji PCR keluarga.

Hasil pun keluar, lima orang dinyatakan positif: Adit bersama kakak, bapak, serta dua saudara iparnya. Sementara, ketiga petugas ambulans dinyatakan negatif.

“Selain keluarga dan petugas ambulans, pihak Puskesmas tidak men-swab siapa yang melayat. Swab PCR dilakukan kalau ada yang bergejala,” ujar Adit ketika dihubungi pada Jumat (26/02).

Puskesmas tidak menguji usap puluhan orang yang melayat karena tidak menunjukkan gejala. Beberapa yang melayat kemudian melakukan tes usap Antigen dengan dana pribadi.

Menurut standar World Health Organization, setidaknya 30 orang di sekeliling pasien terkonfirmasi positif harus dites.

Tes pun juga termasuk pada orang tidak bergejala. Bisa jadi, mereka termasuk kategori orang asimtomatik atau tanpa gejala. Ada pula orang presimtomatik, atau orang yang sudah terinfeksi tapi belum menunjukkan gejala.

Minimnya penelusuran kontak erat juga dirasakan Alex (31) (bukan nama sebenarnya), warga Rawalumbu, Bekasi. Ia dan istrinya sempat dinyatakan positif Covid-19 awal Februari 2021. Sesaat, ia segera melapor ke RT dan berobat ke rumah sakit swasta rujukan Covid-19 di Jawa Barat.

“Rumah sakit seharusnya memberikan panduan, harus menghubungi siapa dan kenapa,” ujar Alex ketika dihubungi pada Minggu (28/02).

Menurut prosedur, RT melaporkan dan berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan seperti Puskesmas untuk penelusuran kontak erat.

“Tidak ada tracing dari Puskesmas. Saya melakukan tracing mandiri dan menghubungi orang-orang yang berinteraksi dengan saya dalam beberapa hari sebelumnya.”

Ia pun segera mengetes kontak eratnya dan sang istri, yakni 10 orang anggota keluarga. “Saya tes Antigen untuk keluarga dan mereka negatif,” katanya.

Pakar Matematika Epidemiologi ITB Nuning Nurani menilai pemerintah Indonesia masih minim melakukan testing (pengujian) dan tracing (penelusuran).

“Sejak awal pandemi, memang testing masih kurang. Pelunasan tracing dan testing 20 hingga 30 orang di sekeliling orang terkonfirmasi positif tidak terpenuhi, (rata-rata) hanya lima orang. Jadi melesetnya besar,” ujar Nuning ketika diwawancara pada Jumat (26/02) lalu.

“Artinya, malah memperburuk transmisi (virus) dengan situasi yang demikian.”

Potensi penyebaran tinggi

Minimnya tes dan penelusuran menjadi salah satu faktor angka kasus Covid-19 masih tinggi di Indonesia. Merujuk analisis yang dilakukan BBC East Asia Visual Journalism yang diolah dari data Kementerian Kesehatan, nilai korelasi antara kasus baru harian dengan jumlah uji PCR tiap harinya berada di angka 0,89.

Artinya, semakin banyak yang dites maka cenderung bermunculan kasus baru yang lebih banyak. Begitu juga sebaliknya.

© BBC
Nuning membaca hasil temuan ini dan menjelaskan, “potensi penyebaran Covid-19 di Indonesia masih tinggi.”

Pandemi belum bisa dikatakan berakhir di Indonesia dalam waktu dekat. Dari sisi epidemiologi, menurutnya, Indonesia sudah masuk ke “stadium 4”.

“Kalau tidak disiplin (protokol kesehatan) itu sudah tidak bisa tracing dan tidak tahu kena dari mana. Itu pertanyaan yang sulit dijawab,” ujar Nuning.

Indonesia bisa dianggap aman dan kasus mulai mereda apabila jumlah tes makin tinggi, yakni sebanyak 1% hingga 2% dari total populasi, disertai rasio orang yang positif semakin rendah.

Hingga 27 Februari 2021, rasio orang terkonfirmasi positif dibandingkan jumlah uji atau biasa disebut dengan positivity rate di Indonesia masih di angka 18,5% dari total 7,1 juta orang yang diperiksa.

Dibandingkan dengan enam negara lainnya di Asia Tenggara dan Asia Timur, Indonesia masih menempati urutan pertama.

Rasio orang terkonfirmasi positif paling rendah yakni di Singapura, senilai 0,82%. Per 27 Februari 2021, negeri Singa ini sudah menguji PCR sebanyak 7.290.760 kali dengan jumlah kasus positif 59.925. Grafik kasus harian baru pun cenderung stagnan.

Di Malaysia, angka rasio menunjukkan hampir empat kali lebih rendah dari angka di Indonesia, sementara di Korea Selatan, 18 kali lebih rendah.

Korea Selatan adalah negara yang menjadi ‘kiblat’ tes usap lantaran mengambil gebrakan dengan menguji massal orang-orang kontak erat maupun non kontak erat pada awal pandemi.

Studi oleh Brigham and Women’s Hospital dan Fakultas Kesehatan Universitas Boston, Amerika Serikat, menyebutkan Korea Selatan berhasil merespons dengan cepat untuk melakukan tes usap bekerja sama dengan sektor privat. Setidaknya 600 laboratorim uji dibangun dengan kapasitas tes mencapai 15.000 hingga 20.000 tes saban harinya.

Selain itu, studi gabungan dari The George Washington University, National Research Foundation of Korea, dan Utah University menyebutkan kebijakan Korea Selatan dibuat dari pengalaman mereka menghadapi pandemi MERS pada 2015 lalu.

Hingga kini, Korea Selatan telah menguji 6.649.006 orang dan mendapati 89.676 kasus positif.

Kurva masih dinamis

Dengan tes usap yang belum maksimal, bagaimana kurva Covid-19 Indonesia selama setahun dibandingkan dengan negara lainnya?

BBC East Asia Visual Journalism menghitung jumlah kasus baru per harinya dan rata-rata kasus selama tujuh hari menggunakan exponential moving average dari data Kementerian Kesehatan untuk melihat tren penambahan jumlah kasus; apakah sudah stagnan atau justru masih dinamis.

Grafik di bawah menunjukkan kurva Indonesia masih dinamis. Dari lima orang yang dites, akan ditemukan satu kasus positif.

Negara dengan kurva serupa Indonesia yakni Malaysia. Di Malaysia, setiap 17 Tes usap PCR, ditemukan satu kasus positif.

Baik Indonesia maupun Malaysia, mengalami puncak pandemi pada Januari 2021.

Korea Selatan, Jepang, Amerika Serikat, dan Vietnam, setidaknya mengalami tiga kali gelombang penyebaran virus ini dalam setahun. Kurva ketiganya cenderung menurun dalam beberapa pekan belakangan.

Dua negara yang sudah mengalami ‘gelombang besar’ yakni India dan Filipina; di mana pertengahan tahun sampai kuartal ketiga mereka mengalami kenaikan kasus yang signifikan, kemudian mulai menyusut.

Beda dengan negara lainnya, kurva China dan Singapura cenderung lebih stagnan. Mereka berhasil menekan munculnya kasus baru di negaranya.

Di Singapura, setiap 121 tes, ditemukan satu kasus positif Covid-19.

Mengantre kasur RS

Dengan sistem tes usap dan penelusuran yang belum maksimal, mata rantai penyebaran menjadi semakin sulit diputus.

Apabila penyakit ini menyerang orang dengan penyakit bawaan atau dengan daya tahan tubuh yang rendah, ancaman kematian menjadi dekat.

Ibunda Adit, harus menunggu dua hari di UGD untuk mendapatkan kasur. Kadar oksigen sebelum meninggal, sempat menyentuh angka 74 atau di bawah batas orang normal, 92.

“Perawatan tidak maksimal dan lambat, karena banyak juga pasien yang harus dirawat dan dipantau,” ujar Adit.

Saat kamar rawat inap sudah berhasil didapat, tak lama nyawa sudah tak tertolong.

Merujuk data Sistem Informasi Rawat Inap Kementerian Kesehatan yang diolah BBC dari 1.775 rumah sakit rujukan Covid-19 di 34 provinsi, hanya tersedia 40,57 ruang isolasi bertekanan negatif, per 26 Februari 2021. Kamar bertekanan negatif dibuat untuk menghambat transmisi virus.

Jika menilik data per provinsi dengan rasio jumlah kasus per 1.000 penduduk yang tinggi, seperti DKI Jakarta, ketersediaan kasur kosong tak banyak.

Sebanyak tujuh dari 10 kasur di kamar isolasi bertekanan negatif sudah penuh, dan enam dari 10 kasur di kamar isolasi tanpa tekanan negatif terisi.

Untuk mendapatkan tiga kasur isolasi di rumah sakit, pasien mesti berebut. Sementara penambahan kasus baru pada 27 Februari 2021 yakni 1.737 kasus.

Penelusuran di level desa

Presiden Joko Widodo dalam pidato virtualnya pada sebuah konferensi pada Kamis (25/02), yang dilansir dari laman setkab.go.id, menyebutkan penguatan 3T (testing, tracing, treatment), pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level mikro, vaksinasi COVID-19, dan penerapan protokol kesehatan, menjadi bagian penting menyelesaikan pandemi.

PPKM skala mikro mulai diterapkan dan didukung dengan pembangunan Posko Covid-19 di level desa dan kelurahan di seluruh Indonesia. PPKM berlaku mulai 9 Februari 2021 lalu.

Dalam posko tersebut, aparat TNI/Polri bekerja sama dengan Puskesmas setempat melakukan penelusuran kontak erat dan tes usap.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menjelaskan penelusuran kontak erat oleh para anggota Korps Bhayangkara dan militer dimulai pada Jumat (26/02) di Jawa dan Bali, mengutip laman resmi kemkes.go.id

Dante berharap penelusuran kontak erat bisa dilakukan sesuai standar WHO sebanyak 30 orang yang pernah kontak dengan pasien terkonfirmasi positif. Dari situ, kemudian dilakukan tes usap.

Menurutnya, penelusuran kontak erat menjadi kunci menekan kasus karena suspek dapat ditemukan lebih dini.

“Yang berbahaya itu yang tidak mempunyai gejala karena mempunyai potensi untuk menularkan kepada masyarakat sekeliling. Kalau ini tidak dihentikan segera maka yang akan kita dapatkan adalah kenaikan kasus terus,” ucap dr. Dante.

Gencar vaksin, incar ‘herd immunity’

Untuk menekan angka kasus, pemerintah juga tengah gencar vaksinasi untuk mencapai kekebalan kelompok atau ‘herd immunity’.

Vaksin dilakukan melalui dua jalur yakni vaksin gratis dari pemerintah dan melalui badan usaha bagi para pekerja, merujuk beleid Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2021.

Hingga 28 Februari, sebanyak 1.691.724 orang telah divaksinasi dari berbagai kelompok pekerjaan; tenaga medis, wartawan, lanjut usia (lansia), pedagang pasar, atlet dan tenaga pendukung cabang olahraga, pendidik dan tenaga kependidikan, serta pelayan publik.

Sebanyak 59 persen telah tuntas menerima dosis kedua. Mereka mendapatkan vaksin CoronaVac gratis dari pemerintah.

Angka ini baru 0,5 persen dari total sasaran vaksin yakni 181 juta orang; atau hampir 70 persen populasi Indonesia.

Untuk jalur kedua, pemerintah mendesain Vaksin Gotong Royong bagi pekerja.

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 dari Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid., menjelaskan jenis vaksinasi ini diperuntukkan kepada pekerja yang biayanya ditanggung badan usaha, seperti dilansir dari laman kemkes.go.id.

Pandemi belum berakhir

Meski vaksin sudah berjalan, pertanyaan ‘kapan pandemi berakhir?’ masih menghantui. Dari pemodelan matematika menggunakan model Richard yang dibuat Tim Simulasi dan Pemodelan COVID-19 Indonesia (Tim SimCovid), belum ada tanda pandemi berakhir pada 2021.

“Kalau kami memprediksikan puncak kasus baru bisa sampai 20 ribu kasus per hari. Buat saya ini masih dalam kondisi belum aman,” kata Nuning.

Puncak diperkirakan terjadi pada 4 Agustus 2021. Hingga akhir 2021, tim juga menilai kasus baru per harinya bisa lebih dari 10.000 kasus.

Ia mengkhawatirkan terjadinya lonjakan orang bepergian lantaran jenuh, terutama pada saat libur panjang dan lebaran, serta menganggap pandemi berakhir dengan adanya vaksin.

“Kita tidak bisa menganggap pandemi selesai karena kampanye vaksin dan vaksin sudah ada. Protokol kesehatan harus dijaga, mobilitas dijaga, menghindari kerumunan,” ujarnya.

Sumber Berita : BBC News

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement